Surti, apa kau ingat kala keluargamu baru saja pindah ke kota kembang. Masih aku ingat, waktu itu hari minggu, satu loyang kue bolu kau bawa ke rumahku. Mungkin semacam kue perkenalan dari ibumu. Kala itu kau masih suka memakai kaus kaki sebelah-sebelah. Sebelah hijau, sebelah merah.
Empat belas tahun yang lalu, kelas dua sekolah dasar tepatnya. Tak kusangka kau di sekolahkan di tempat yang sama denganku. Kala itu kau paling pandai membaca. Jujur aku iri denganmu. Ditambah lagi ayahmu yang setiap malam bermain catur di halaman rumahku selalu menceritakan kebolehanmu. Tentang lomba membaca cerita yang kau menangkan. "Pergi ke Rumah Nenek". Masih jelas ku ingat judul cerita yang kau baca saking seringnya ayahmu menceritakannya.
Kawanku, aku ingat kala kau memperkenalkan diri di depan kelas. Kau masih ingusan, dan aku orang pertama yang meledekmu. Kau menangis waktu itu. Kaget aku, semudah itu kau menangis. Ibu Romlah menghukumku karena kau. Disuruhnya pula aku meminta maaf. Kau pasti senang waktu itu. Ya, kau yang menang. Seketika aku mengunjungi rumahmu untuk meminta maaf. Alamak, tak kusangka ibumu terlalu cantik untuk menjadi ibumu. Aku heran mengapa ia punya anak gadis seperti kau.
Surti, esok kuteruskan ceritaku. Enam tahun yang lalu kau pindah ke Pemalang, kota kelahiranmu. Namun, kau masih temanku bercerita. Seperti kata pujangga kesukaanku "Yang fana adalah waktu. Kita abadi". Kau tetap Surti si anak ingusan dengan kaus kaki sebelah-sebelah. Sebelah hijau, sebelah merah.
Sahabatmu di kota kembang.
Solihin.
^_^ masih celoteh pelangi
Empat belas tahun yang lalu, kelas dua sekolah dasar tepatnya. Tak kusangka kau di sekolahkan di tempat yang sama denganku. Kala itu kau paling pandai membaca. Jujur aku iri denganmu. Ditambah lagi ayahmu yang setiap malam bermain catur di halaman rumahku selalu menceritakan kebolehanmu. Tentang lomba membaca cerita yang kau menangkan. "Pergi ke Rumah Nenek". Masih jelas ku ingat judul cerita yang kau baca saking seringnya ayahmu menceritakannya.
Kawanku, aku ingat kala kau memperkenalkan diri di depan kelas. Kau masih ingusan, dan aku orang pertama yang meledekmu. Kau menangis waktu itu. Kaget aku, semudah itu kau menangis. Ibu Romlah menghukumku karena kau. Disuruhnya pula aku meminta maaf. Kau pasti senang waktu itu. Ya, kau yang menang. Seketika aku mengunjungi rumahmu untuk meminta maaf. Alamak, tak kusangka ibumu terlalu cantik untuk menjadi ibumu. Aku heran mengapa ia punya anak gadis seperti kau.
Surti, esok kuteruskan ceritaku. Enam tahun yang lalu kau pindah ke Pemalang, kota kelahiranmu. Namun, kau masih temanku bercerita. Seperti kata pujangga kesukaanku "Yang fana adalah waktu. Kita abadi". Kau tetap Surti si anak ingusan dengan kaus kaki sebelah-sebelah. Sebelah hijau, sebelah merah.
Sahabatmu di kota kembang.
Solihin.
^_^ masih celoteh pelangi
Komentar
Posting Komentar