Jurnalis Islam dan Problematika Budaya Pop

Pergeseran peradaban hari ini merambah pada budaya pop. Ditenggarai oleh arus informasi dan transportasi yang semakin mudah. Sudah tidak asing kita temukan seseorang yang bekerja di satu kota dan tinggal di kota lainnya. Hal ini berkaitan dengan sarana transportasi yang semakin hari semakin ditinggatkan. Begitupun dengan arus informasi yang digawangi oleh maraknya peninggatan teknologi. Mulai dari surat kabar, telepon genggam, hingga dengan bantuan jaringan internet media baru diciptakan.

Masyarakat dapat dengan mudah berinteraksi. Situs-situs berita, jual beli, hingga microblogging dengan bentuk media sosial bertebaran di dunia maya. Kontennya pun lebih beragam dibandingkan media konvensional yang kebanyakan hanya memuat beberapa bentuk saja. Mulai dari berita dengan bentuk teks, gambar, suara, hingga campuran dari beberapa bentuk. Informasi baik yang berupa berita maupun konten-konten kacangan bertebaran melalui jaringan internet tanpa filter. Bukan hanya para jurnalis dengan media mapannya. Masyarakat pun dapat dengan mudah memberikan informasi kapanpun dan dimanapun.

Segalanya menjadi komoditas yang dapat dijajakan serta diperjual belikan. Berita-berita berseliweran disana-sini. Tema-tema yang diangkat bahkan terkadang saling kontradiktif. Kebingungan penerima pesan pun menjadi hal yang biasa ditemui. Di satu media menyuarakan A dan di media lain menyuarakan sebaliknya. Hal ini semakin runyam dengan ketidak siapan masyarakat untuk memilah pesan atau informasi yang diterimanya. Parahnya para pemberi informasi pun dengan mudahnya melepas tanggung jawab dari fenomena yang diakibatkannya. Masalah yang timbul juga amat beragam. Beberapa kasus masyarakat yang cenderung mengekor pada kebiasaan selebritis di media yang berbuntut nilai norma dalam hal ini islam semakin memudar. Peperangan terjadi di banyak tempat pun tidak lepas dari pengaruh berita simpang siur pada media massa tersebut.

Banyak pekerjaan rumah bagi umat islam terutama bagi para cendikiawan hari ini dalam rangka memperbaiki dan mengembalikan peranan jurnalis serta media itu sendiri ke tugas pokoknya yakni amar ma’ruf nahyi munkar. Didalam bukunya Jurnalistik Dakwah, ASM. Romli menyebutkan setidaknya ada lima peranan jurnalis dakwah (Islam) diantaranya sebagai pendidik (muaddib), pelurus informasi (musaddid), pembaharu (mujaddid), pemersatu (muwahid), serta pejuang (mujahid).

Para jurnalis harus dipersiapkan dengan lebih matang hingga dapat menghasilkan berita yang tidak hanya banyak pembaca apalagi menghitung ongkos semata. Tapi lebih kepada peran-peran yang telah disebutkan sebelumnya. Pertama sebagai pendidik, berita yang dihasilkan sepatutnya memberikan tuntunan-tuntunan yang dapat memperbaiki sisi moral maupun kognitif dari penerima pesan. Seorang jurnalis islam dituntut untuk meluruskan informasi yang simpang siur serta kontradiktif sehingga penerima pesan dapat menanggapi dengan benar dan tepat. Selanjutnya jurnalispun harus menyuarakan pembaharuan islam. Disamping itu seorang jurnalis juga memegang misi sebagai pemersatu umat islam yang hari ini selalu diserang dari berbagai sisi dalam rangka pemecah belahan.

Fragmen-fragmen dari masayarakat yang terlanjur termakan oleh arus media yang tidak jelas harus di arahkan pada satu pandangan islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dengan prinsip persaudaran. Tugas yang dibebankan memang amat berat dan cenderung kompleks. Namun, disitulah umat islam perlu bahu membahu dalam menyelesaikan masalah yang amat pelik. Dalam hal ini semangat berjuang dalam rangka menyampaikan pesan sebagai bentuk tabayyun. Sebagai mana yang telah Allah sampaikan dalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 104. “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” Dalam konteks ini menyerukan yang benar serta baik dan meminimalisir pesan yang sesat seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Bersamaan dengan itu kebiasaan untuk bertabayyun harus di tanamkan kepada seluruh umat islam baik pelaku media maupun penerima pesan.

Muhammad Husen Haikal
UIN Sunan Gunung Djati/Semester 5/PJ.005

Sumber: Facebook Inspirasi Ramadhan

Komentar