Suasana yang tetap sama. Seperti Cianjur, di sini jaringan seluler sama buruknya. Kali ini aku tak bersama Rinto. Ridwan yang hari ini menemaniku bepergian ke Baduy. Ya, Ridwan temanku sewaktu SMA dulu. Kami pergi berenam dan mengajar anak-anak di sini.
Diani, tempat kita memang berbeda. Makin menjauh. Spasi antara aku, Bandung dan kamu. Jarak membentang ratusan kilo meter, puluhan kota membatasi mata kita untuk saling melempar pandang.
Namamu sejak lama ingin aku simpan jauh sejauh-jauhnya. Mengapa tak ku buang? Entahlah. Aku masih ingin menyimpanmu. Tidak hanya senyum, pahit juga masih kuabadikan dalam cerita.
Kamu masih menjadi narasi kesukaan yang aku ulangi terus dalam buku harian. Setidaknya hingga lelap malam atau saat letih tiba-tiba datang. Aku masih mengeja rindu itu. Rindu, jarak antara aku dan nafas terakhir dalam secarik fiksi tentang kita.
---
tirai dan angin yang menyibak kepergianmu
sendu dan suasana lain yang menggenapkan rindu
kita yang mengabah ke arah yang tak mampu mengubah kata jarak menjadi temu
sendu dan suasana lain yang menggenapkan rindu
kita yang mengabah ke arah yang tak mampu mengubah kata jarak menjadi temu
aku menunggumu tiba di persimpangan sapa
menanti detik jumpa yang tak kunjung jua
menanti detik jumpa yang tak kunjung jua
lebih lama dan semakin senja
lebih dalam dan semakin lupa
lebih dalam dan semakin lupa
kita tak pernah lagi punya rupa
hanya pinta yang gundah gulana
hanya pinta yang gundah gulana
Bojong Menteng, 9 Agustus 2018

Komentar
Posting Komentar