Tentang Jodoh dan Rindu

Bercumbu lagi dengan lembar-lembar cerita orang diujung jalan sana. Mengundang tangis, tawa, dan sesekali rindu. Rindu? Ya, cerita yang hanya kumiliki sendiri. Hari ini begitu. Barangkali rinduku kali ini adalah rindunya orang pada sesuatu yang belum ia miliki. Begitu katanya.

Rindu akan cinta yang bahkan belum sedikitpun ku mulai. Memulai? Bukankah kamu adalah jawaban Tuhan atas semua tingkahku? Huh. Baru aku sadar. Kamu mungkin belum dekat. Mungkin salah satu yang tengah lalu lalang disekitar. Mungkin pula tengah berada di tempat yang amat dekat. Ah, apapun itu terserahlah. Satu yang aku yakini, pasti Tuhan telah titipkan nama dalam skenario besar hidup yang entah sudah sejauh mana aku menjalaninya.

Sesekali mampir dalam pikir untuk menjamah mimpi akan rindu lebih dalam lagi. Namun, ragu jua rupanya yang tega menjemputku lebih cepat. Mimpi itu tak usai. Meski, tak satupun nama yang menjadi kisi-kisi jodoh hari ini. Moga esok pertemukan aku dengan nama-nama baru beserta ceritanya. Oh ya, satu lagi yang hampir saja lupa. Moga salah satu nama dan cerita itu menyisakan rindunya sendiri. Ya, rindu yang dapat tersampaikan. Setidaknya sesekali dan tersetujui atas nama cinta dan persaksian di hadapan Sang Pemilik Cinta.

Aku di persimpangan jalan. Menunggu cerita usai sembari berkarya ditengah pengharapan. Doaku, kita bertemu dikala cinta telah bertemu restu.

Kepadamu, Jodoh di selasar rindu.

^_^ masih celoteh pelangi
Bandung (Kosan Pilar Biru), 6 April 2016 pukul 01.50
Ditemani Novel Jodoh karya Fahd Pahdepie yang baru saja genap terselesaikan. Juga satu cup greentea yang sudah kosong di tengah membaca tadi.

Komentar