Jodoh, lagi –lagi aku buka pembicaraan mengenai pasar dunia yang kau tahu begitu luas adanya. Dengan perantara kata yang selalu menjadi komoditas tanpa batas. Komoditas? Pasar? Apa pantas aku sejajarkan kata nan agung bernama cinta disandingkan dengan hal semacam itu. Lagi-lagi para penjaja kata seperti kau jua yang harusnya ikut bertanggung jawab hari ini. Banyak cerita mengenai jodoh dimulai disana-sini. Mulai dari yang amat elegan hingga cerita picisan di jalan jalan. Apa itu cinta? Ya, semua mengatakan itu cinta. Begitu pula dengan kau dan aku.
Alamak tahu betul sepertinya aku tentang cinta. Seakan semua cerita cinta telah ku jelajahi. Jangan salah, referensiku mengenai ini amat banyak. Mulai dari novel, puisi, hingga buku-buku teks telah kulahap habis. Ya, cinta yang teoritis.
Namun, kau tentu tahu aku dengan sangat. Ya, masih sama dengan hari-hari yang aku ceritakan sebelumnya. Jangankan soal jodoh, menjalin kasihpun aku tak punya nyali. Surti, kiranya kau sudi untuk memberi aku petuah mengenai wanita. Hingga aku dapat dengan bangga memperkenalkan namaku di belakang namanya kelak. Hingga tak hanya dalam tulisan kisahku melanglang buana. Surti kawanku, kiranya kau bisa datang barang sehari ke kota kembang seperti dulu. Akan aku kenalkan kau dengan teman-teman baruku. Mereka jelas tampan, seperti aku tentunya. Haha, hanya itu rayuan yang aku punya.
Sepertinya tak pantas aku bertransaksi mengenai jodoh. Tapi, bagaimana lagi? Aku butuh kasih sayang hari ini. Ku gadaikan dulu semua cinta yang teoritis tadi.
Surti kawanku, surat darimu telah kubaca tanpa celah. Bahkan masih ku ingat letak titik dan komanya. Kutunggu balasanmu.
Sahabatmu di kota kembang.
Solihin.
^_^ masih celoteh pelangi
Komentar
Posting Komentar