Apa Kau Inginkan Sebuah Agresi?


Jatuh cinta, sekali lagi bisa membuat kita berjalan kejauhan. Derai-derai emosi itu jatuh bertebaran, mereka berserakan. Jangankan berbalas, sesekali bahkan tanpa penghargaan.

Bukankah nantinya aku dan kamu itu bertautan? Lalu, untuk apa kita saling melakukan agresi? Apa mungkin agar di ujung jalan kita temukan kata damai?

Hei, coba kau lihat lembar di ujung sejarah lalu. Bukankah banyak agresi yang tak berujung damai?

Ditaklukkan tanpa bekas, yang menang terlalu kuat. Dan yang kalah sepertinya kurang semangat. Atau memang tak berniat angkat senjata?  Ah, si menang saja yang terlalu mendominasi. Bahkan aku ingat cerita tentang pencaplokkan kekuasaan terhadap wilayah merdeka. Sepertinya tak ada minatku untuk menjadi si pemenang, apalagi si terjajah. Ya, yang satu ini kisah si pemenang dan si terjajah.

Ada yang lain?

Tentu saja, pernahkah kau ingat cerita tentang agresi yang gagal? Kasus yang satu ini setidaknya tak menyimpan banyak kisah. Yang ada hanya penyerangan yang pernah terjadi. Terntang cerita penyerang, yang diserang, dan tentu saja korban yang berjatuhan. Batal. Tentu saja jejak mereka yang tumbang takkan begitu di ingat. Bukankah, euforia hanya ada saat kau menang? Dan merdeka ada saat kau benar benar-benar tumbang sejenak. Cerita seperti inikah yang kau mau? Aku tidak.

Lalu?

Apakah kau yakin takkan ada mediator yang ikut campur nantinya. Ya, mereka tiba-tiba hadir di tengah perang. Datang begitu saja membawa misi perdamaian. Darah tetap berjatuhan bukan? Bukan hanya si penyerang dan yang diserang. Namun, muntahan api juga datang dari si juru damai, bukan? Picik sekali. Syukur-syukur mereka memang juru damai yang adil.

Tidakkah kau berpikir tentang kemungkinan lain? Kadang mereka mendekat, memediasi pihak tertentu. Dan akhirnya hubungan diplomatik terjadi. Oke, kerjasama baru ditandatangani. Kemerdekaan yang satu pun dihargai. Dengan pihak sebelah dan mediator sebagai aktornya. Indah sekali. Sementara, sebelah pihak yang beragresi tadi hanya bisa menyelami kegagalan. Cap penjajah akan diterimanya. Dunia tak terima. Dikucilkan,

Miris bukan? Lagi-lagi bukan itu yang ku mau. Sepertinya itu maumu? Dan dia, mungkin.

Hei, aku tak mau agresi semacam itu, terlalu agresif. Terlalu riskan. Bukankah awalnya aku inginkan kau karena kekaguman, juga rasa nyaman?

Aku hanya ingin berkunjung, katakan saja bertamu. Tidakkah ingin kau sambut? Ya, sambut saja si duta besar, atau kecil dengan secangkir teh hangat. Dan kau bisa acuhkan perjanjian kerjasamanya. Dibanyak kasus ini mendatangkan agresi, tahu. Sayangnya aku tidak.

Sudahlah, yang aku mau hanya kerjasama dengan jalur damai. Atau bertamu meski hanya berakhir dengan secangkir teh. Tenang saja, aku tak akan melancarkan agresi. Perdamaianmu ku hargai. Aku bukan penjajah.

Sumber gambar: http://kkcdn-static.kaskus.co.id/images/2013/01/11/1221767_20130111023003.jpg

Komentar