Kita berbicara banyak kala langit mendekati gelap. Kau bercerita tentang duniamu yang sungguh memberiku sejuta rasa penasaran, "Menarik!" ujarku dengan lantang. Meski hanya mampu terungkapkan dalam hati. Mengapa hanya engkau yang menemukannya? Bukankah kita sama-sama manusia.
Kau berceloteh mengenai tempat-tempat yang telah kau jelajahi. Orang-orang yang kau temui. Serta waktu-waktu yang telah kau isi dengan cerita. Bongkahan yang tak sepenuhnya aku mengerti. Atau memang aku yang sengaja menutup diri. Iri.
Entahlah, aku tak bisa padam hari ini. Dan kau tak datang hanya untuk berkemah lalu pergi bukan? Takdir tak mungkin sebercanda kau datang, tinggal, lalu menjadi kenangan. Ladang disini masih tandus, meski sejatinya subur. Hujan telah lama tak turun. Atau kaukah sejuk yang menggantikan air langit?
Siapapun dirimu. Entah petualang yang tengah dahaga. Atau justru pembawa sejuk dan penawar dahaga itu sendiri.
Kau berceloteh mengenai tempat-tempat yang telah kau jelajahi. Orang-orang yang kau temui. Serta waktu-waktu yang telah kau isi dengan cerita. Bongkahan yang tak sepenuhnya aku mengerti. Atau memang aku yang sengaja menutup diri. Iri.
Entahlah, aku tak bisa padam hari ini. Dan kau tak datang hanya untuk berkemah lalu pergi bukan? Takdir tak mungkin sebercanda kau datang, tinggal, lalu menjadi kenangan. Ladang disini masih tandus, meski sejatinya subur. Hujan telah lama tak turun. Atau kaukah sejuk yang menggantikan air langit?
Siapapun dirimu. Entah petualang yang tengah dahaga. Atau justru pembawa sejuk dan penawar dahaga itu sendiri.
Komentar
Posting Komentar