Ingin aku persiapkan serinci mungkin. Hingga tak satupun titik dan koma terlewatkan. Oh ya, spasi jangan dilewatkan. Aku tak suka ada yang terlewat, tak ingin.
Bisakah aku bungkam para pencela? Tapi untuk apa, bukankah merekapun sama sepertiku? Ya, mereka pun ingin yang terbaik untuk hari esoknya. Lalu, ini tulisan apa? Sederhana, sesederhana aku takut esok tidak menarik.
Hei, apa yang sedang kau lakukan? Kau? Maaf aku sedang bertanya pada diriku sendiri. Aku sedang termenung. Aku ingat kata-kata guru kalau esokku harus lebih baik dari detik yang sedang kujalani, lebih rinci lagi bahkan ke masa lalu. Kata guru? Ilmuku terlalu sedikit, hingga rujukan terdekat adalah guru.
Aku takut merugi, takut setakut-takutnya. Terlebih rugi itu perih bukan? Rugi kala lelah tak terbayarkan.
Hei, ini apa? Sepertinya sebuah renungan. Atau hanya sepucuk kecil tulisan tanpa makna. Oh ya, esokku ini lebih sakral dari kata guruku tadi. Lalu, esok yang seperti apa itu?
Apa kau pernah membayangkan cerita-cerita Sains Fiksi dan Fantasi yang sempat menggambarkan pintu-pintu menuju dunia lain seperti Novel Bumi-nya Tere Liye? Atau Harry Potter? Menakjubkan bukan? "Kereeen." Akupun berfikir demikian.
Takjub aku dibuatnya. Tapi sayangnya imajiku tak bisa terlalu diandalkan. Kadang ia melesat terlalu jauh, bahkan mungkin menurutmu berlebihan.
Seketika yang terbayang tentang pintu dunia lain itu adalah ukurannya sebesar dua kali satu meter, sekitar segitu. Pintu ini istimewa, penuh dengan kesederhanaan. Tak ada ornamen naga atau gambar-gambar menarik seperti yang tergambar di televisi.
Sekali lagi imajiku mungkin tak bisa diandalkan.
Pintu ini horisontal, lho! Pintu apa itu? Pintu ini sakral. Sepertinya sesakral pernikahan yang bisa kau tempuh berdua, memang berdua. Iring-iringannya panjang, setidaknya itu yang aku harapkan. Doa teriring dari setiap mulut, semua bahagia. Saking bahagianya semua menitikkan air mata. Bukankan kebahagian tertinggi itu kala diiringi dengan tangisan.
Haduh, imajiku memang tidak menarik.
Bawa perasaan sepertinya. Karena pernikahan yang satu ini pun punya pasangan, bahkan untuk yang sudah menikah. Menarik bukan? Tapi untuk kasus yang satu ini beda tentunya. Pasangan pertama tak bisa menolak, bahkan ketika menangis ia tetap akan mendampingi saking sakralnya. Mungkin, karena ia tahu diri. Pasangan baru yang satu ini sangat setia lho! Setia sekali. Bahkan sekali-sekali aku berfikir bahwa ini adalah makna sebenarnya dari "Lelaki baik adalah untuk perempuan baik", dalam bentuk isyarat tentunya.
Yap, pasangan yang satu ini spesial. Tuhan langsung pula yang memilihkan. Istimewa, diperantarai oleh ajudan-ajudan-Nya yang setia, sangat setia. Sesetia pasangan yang dipilihkan untukku. Jadi, sekali lagi aku takut kalau aku bukan lelaki baik. Yang lebih kutakutkan adalah calon pasangan ini sudah berkenalan, lebih tepatnya sudah saling mengenal denganku lho! Akrab malah. Sayangnya manusia itu kadang tak sadar akan pertemuan, bukan?
Adzan sudah berbunyi kawan. Aku pergi dulu. Waktu itu sering tergesa, bukan? Takut-takut sebentar lagi Tuhan mempertemukanku dengannya. Ya, dibalik pintu. Aku pergi dulu. Kamu mengerti bukan arah pembicaraanku? Ah, aku yakin kamu peka, tidak seperti aku.
Sumber gambar: http://malahayati.ac.id/wp-content/uploads/2016/04/cinta-dalam-diam-2.jpg

Penyajian yang menarik :D hahaha. Mengganbungkan dua hal yang berbeda dalam satu konteks. Seperti pernikahan :v
BalasHapusAh jadi kepikiran: How about me?
Ayooo.. Kepikiran pasti. :D
BalasHapus