Aku hanya pengelana yang bangun kepagian, pergi kejauhan, dan bertindak kelewatan. Semua tak seharusnya dimulai bila saja aku dapat menahan diri. Menahan rindu yang tak seharusnya dilebih-lebihkan. Mereka yang memulai ketika bahkan aku tak sedikitpun mengenal. Pun begitu aku yang menanggung dosa terbesar.
Terlalu berharap yang kemudian hanya membuat penyesalan bertambah besar. Mereka membawaku terbang terlalu tinggi. Bahkan hingga lupa kalau sayapku masih belum memiliki daya untuk mengepak. Atau bahkan aku hanya seekor ayam yang tak memiliki kemampuan untuk terbang.
Kau tahu, mengapa rindu itu indah? Mungkin, karena ketidakpastiannya yang menentramkan. Membayangkan setiap senyum yang kau berikan kepadaku. Semua berdasarkan senyum yang selama ini kau beri. Entah pada siapa. Yang jelas itu yang ada di benak pemimpi ini.
Kau tahu, mengapa rindu itu indah? Mungkin karena setiap detik penantian memiliki tempatnya sendiri di dalam hati. Semua tak salah. Yang ada hanya indah tanpa mengingat bahwa kau pun manusia yang berfikir dan memilih. Kau milikku, setidaknya dalam pikirku itu adalah nyata. Setidaknya bayangmu memang menunjukkan seperti itu.
Apa kujadikan saja bayang itu pengantinku lusa? Ah, semakin tak karuan. Sepertinya harus kuakhiri celoteh ini. Aku ingin terlelap lagi. Menemuimu, dalam realitas lain. Mimpiku.
Terlalu berharap yang kemudian hanya membuat penyesalan bertambah besar. Mereka membawaku terbang terlalu tinggi. Bahkan hingga lupa kalau sayapku masih belum memiliki daya untuk mengepak. Atau bahkan aku hanya seekor ayam yang tak memiliki kemampuan untuk terbang.
Kau tahu, mengapa rindu itu indah? Mungkin, karena ketidakpastiannya yang menentramkan. Membayangkan setiap senyum yang kau berikan kepadaku. Semua berdasarkan senyum yang selama ini kau beri. Entah pada siapa. Yang jelas itu yang ada di benak pemimpi ini.
Kau tahu, mengapa rindu itu indah? Mungkin karena setiap detik penantian memiliki tempatnya sendiri di dalam hati. Semua tak salah. Yang ada hanya indah tanpa mengingat bahwa kau pun manusia yang berfikir dan memilih. Kau milikku, setidaknya dalam pikirku itu adalah nyata. Setidaknya bayangmu memang menunjukkan seperti itu.
Apa kujadikan saja bayang itu pengantinku lusa? Ah, semakin tak karuan. Sepertinya harus kuakhiri celoteh ini. Aku ingin terlelap lagi. Menemuimu, dalam realitas lain. Mimpiku.
Komentar
Posting Komentar