Tak Biasanya Merah Jambu

Bersamaan dengan derasnya rintik hujan, begitulah rinduku. Dengan bertubi-tubi cepat dan jumlahnya. Tidakkah kau ingin tahu aku?

Ingatkah satu purnama lalu pernah kau ucapkan nama di tengah ramainya suasana. 

Ramai? Tidakkah hari itu hening. Bahkan beberapa menit terbuang sebelum kau bersedia memperkenalkan diri. Lebih tepatnya dipersilakan.

Sepertinya hanya di benakku festival itu dirayakan. Festival penyambutan tuan puteri dengan senyum indah bak bunga pukul sembilan. 

Tak sempat berkenalan lebih jauh. Namun celotehanmu tentang hari lalu barangkali telah lebih banyak bercerita. Bukan cuma tentang persoalan, juga tentang dirimu.

Maaf, sepertinya aku menyimpan harap.

Beberapa hari tak karuan. Terlalu asik aku dengan namamu, terlalu sering aku mengejanya. Alfa mungkin caraku mendamba. Begitulah ketidakmengertianku.

Tak biasanya merah jambu.

Tak lama bercengkrama. Namun jarak rupanya tak bersedia kau pangkas bahkan hanya sedikit saja. Asing kembali, bahkan untuk ukuran teman yang berkenalan sambil lalu.

Dan bulan pun berganti. Namamu, masih berupa cerita. Cerita tentang orang yang sesaat pernah bertamu tanpa sempat meneguk segelas teh. Menyesal tak kututup pintu depan.

Maaf sepertinya aku menyimpan harap.

Komentar

  1. Bersemangatlah kawan,.
    Berusahalah untuk membuat moment yang baik, agar dia tidak hanya "pergi" tapi juga "kembali"

    think positif

    BalasHapus
  2. Menjadi rumah. Bisa menetap. Dan bila pergi punya kata "Pulang".

    :D

    BalasHapus
  3. Oh, jadi ini maksud merah jambu, a hai? Hihi. Jejak, jejak, jejak:D

    BalasHapus
  4. Hehe ngerti yah sekarang.
    Makasih udah mampir. :D

    BalasHapus

Posting Komentar