Dia tak benar-benar ingin tahu namamu, tahu? Hanya ingin mempersempit jarak, memangkas kelu yang terlalu membuat pahit lisannya. Dia tak benar-benar ingin tahu. Hanya tak ingin waktu berlalu dengan sendirinya, tanpa namanya tergenang di satu lubang jalan pikiranmu.
Hanya segitu yang dia bisa, tak seberani mengatakan rasa. Tahukah kau, namamu masih menjadi hiasan di dinding kamarnya. Terkenang, mungkin kata yang bisa menjelaskan anomali perasaannya. Tak ada potret, hanya beberapa aksara yang terangkai. Namamu Puja, bukan?
Hei, tanggalan sudah terlewat banyak. Dia kini beranjak sedikit. Jatuh cinta jutaan kali lebih sering. Mengingat hingga mengigau pula. Dia bodoh, kau tahu? Memaknai malam saja dia tak mampu. Baginya, rasi bintang disana adalah wujudmu yang merindu, mungkinkah? Aku tak begitu tahu, setidaknya dia mulai menanggalkan kewarasannya. Dia sempat bercerita, kau tahu?
Aku tak pernah mengerti apa yang terpikir dalam benaknya. Dia hanya bercerita. Mengoceh tentang hal yang tak terjelaskan nalar. Cinta.
Namaku Senja, begitupun dia. Dia gila, wajahnya pun serupa aku.

Komentar
Posting Komentar