Terkenang


Hei, Kau. Berdiamlah disini beberapa waktu saja. Ku kenalkan kau seseorang yang mungkin masih kau ingat raut mukanya. Dia yang tak beranjak sejak bulan masih sabit. Akhir bulan lima yang lalu. Ingatkah kau dengan dia yang terang-terangan memperkenalkan diri hari itu. Dia malu, pasti kau tahu.

Dia tak benar-benar ingin tahu namamu, tahu? Hanya ingin mempersempit jarak, memangkas kelu yang terlalu membuat pahit lisannya. Dia tak benar-benar ingin tahu. Hanya tak ingin waktu berlalu dengan sendirinya, tanpa namanya tergenang di satu lubang jalan pikiranmu.

Hanya segitu yang dia bisa, tak seberani mengatakan rasa. Tahukah kau, namamu masih menjadi hiasan di dinding kamarnya. Terkenang, mungkin kata yang bisa menjelaskan anomali perasaannya. Tak ada potret, hanya beberapa aksara yang terangkai. Namamu Puja, bukan?

Hei, tanggalan sudah terlewat banyak. Dia kini beranjak sedikit. Jatuh cinta jutaan kali lebih sering. Mengingat hingga mengigau pula. Dia bodoh, kau tahu? Memaknai malam saja dia tak mampu. Baginya, rasi bintang disana adalah wujudmu yang merindu, mungkinkah? Aku tak begitu tahu, setidaknya dia mulai menanggalkan kewarasannya. Dia sempat bercerita, kau tahu?

Aku tak pernah mengerti apa yang terpikir dalam benaknya. Dia hanya bercerita. Mengoceh tentang hal yang tak terjelaskan nalar. Cinta.

Namaku Senja, begitupun dia. Dia gila, wajahnya pun serupa aku.

Komentar