Salam. :)
Kau pasti sering mendengar. Kata bijak yang beberapa waktu ini mulai marak dipakai kembali. Kira-kira begini bunyinya.
“Bentuk cinta yang paling dalam itu saling mendo’akan.”
“Jauh di mata, dekat di do’a.”
“Mungkin aku tak berani mengutarakan cinta. Tapi di sepertiga malam aku dengan rajin memintamu kepada Tuhan.”
Bila di lain hari banyak yang membahas soal mulianya orang yang mencintai dan bisa menjaga perasaan. Tentang menjaga diri dari khalwat. Atau mungkin kasus lain yang lebih krusial.
Pun begitu satu hal yang saya garis bawahi disini. Cinta dan do’a. Secara tersurat kata-kata diatas menekankan bila jatuh cinta maka do’akan. Begitu kira-kira.
Enak betul ya jadi manusia yang banyak dicintai. Banyak sekali yang mendo’akan.
Pelajaran pertama yang saya tangkap disini yakni bagaimana agar diri dicintai. Konsekwensinya jelas dido’akan. Bayangkan kalau yang mencintai kita adalah orang tua kita? Mustajab do’anya. Orang teraniaya? Atau orang-orang lain yang termasuk golongan yang doanya mustajab. Yakin deh hidup berkah.
Pelajaran kedua yakni tentang mengelola hati. Sering sekali kita menjebak akal kita oleh perasaan. Katakan saja namanya jatuh cinta. Setiap malam terpikirkan si doi. Mungkin dihubungi atau yang paling baik cukup dengan mendo’akan. Iya kalau memang jodoh, kalau tidak?
Kalau iya, jelas esok atau lusa pasti akan dipertemukan. Kalau tidak? Hei, jangan kau pagari perasaan itu terlalu cepat!
Do’a tetap harus yang terbaik. Namun, untuk memilih harus cepat kau putuskan dengan khitbah bukan? Kalau belum ada keberanian? Gamang? Lepaskan dulu ke pasar bebas hatimu itu. Cukup isi dengan idola-idola hebat yang kau coba untuk tiru bukan? Contohnya Rasulullah. Kau jadi punya banyak waktu untuk memperbaiki diri dengan fokus. Jadi keren dulu dong.
Di sisi lain biar Allah yang memilihkan yang terbaik dan biarkan datang di waktu yang terbaik pula. Pasti ada saat dimana kita memang telah benar-benar siap untuk memilih. Dan menyandingkan do’a dengan nama yang spesifik ke si doi.
Sekedar info. Tokoh “kau” dan “saya” ini satu orang ya. Tepatnya renungan saja. Hehe.
Terimakasih sudah sudi membaca. Maaf kalau ada kekeliruan.
Wassalam. :)
Sumber gambar: http://cdn1-a.production.liputan6.static6.com/medias/887172/big/067581600_1432779694-jodoh.jpg

Komentar
Posting Komentar