Mengenalmu (Cerbung Nirwana Bagian Satu)


Sepucuk surat undangan tergeletak begitu saja. Namamu tertulis disitu disertai bayangan senyum lebar yang seolah mengolok-olok. Lembarnya hanya bisa dilipat dua. Namun, kacaunya pikiranku seolah dilipat-lipat hingga sulit untuk dilipat lagi.

“Hei, aku sudah mendapatkan yang terbaik.”

Sepertinya itu yang ingin kau ucapkan padaku. Entah kau menyeringai di pagi, siang, sore atau malam hari. Aku mendapatkannya tepat di sore terbaik yang semudah itu kau sulap menjadi rusak

***

Diani, suka sekali kau datang tiba-tiba. Di suasana pusat Kota Bandung yang ramai, di sekolah satu atap dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas. Dulu kita tak sengaja mengenal saat mengajar di kelas yang sama. Di taman kanak-kanak yang memang intensif. Kita mengajar berdua. Kau selalu tersenyum ringan meskipun aku yakin saat itu kau rikuh. Jelas, perempuan berjilbab lebar sepertimu tak biasa berpapasan dengan lelaki. Beberapa kali aku menjaga jarak. Setidaknya di luar aku dan kau sebagai pengajar di kelas kucing.

Di kelas? Ya, aku hanya mencoba bekerja sebaik mungkin. Akrab denganmu sekedarnya saja. Mengobrolkan anak-anak di kelas. Selebihnya, rikuh. Aku belum begitu mengenalmu saat itu. Hanya mengira-ngira.

Diani, suka sekali kau datang tiba-tiba. Semester kedua dan aku mulai sibuk kembali dengan kelas pascasarjana yang baru saja ku mulai. Semuanya serba asing. Lingkungan, teman dan tentu saja rutinitas yang baru. Kelas kucing sudah ku tinggalkan. Kali ini aku mengajar ekstrakurikuler di Sekolah Dasar. Ya, kita masih satu atap dan aku belum mengenalmu juga.

Waktu itu tepat di tahun baru. Kepala sekolah menugaskanku untuk menjadi panitia gathering pengajar. Membantu teman mengajar yang memang tengah studi di jurusan yang sama. Rinto, diia ketua dan aku tangan kanannya.

“Agar lebih mudah berkoordinasi.” Kata kepala sekolah.

Memang, kami sudah sering mengobrol panjang lebar di luar pekerjaan. Boleh dibilang kami teman baik. Sesekali kami berbincang soal kuliah, penelitian dan perempuan, soal jodoh. Dua puluh empat sepertinya usia yang cukup tepat untuk lelaki mulai mempersiapkan jenjang itu.

Saat itu, aku bergeming saat ia menanyakan namamu. Katanya kau satu kampung dengannya. Aku tak peduli. Meskipun ku akui kau memang cantik dan perangaimu pun baik. Namun, aku benar-benar belum mengenalmu saat itu.

Dari banyak hal yang aku tahu tentangmu. Diantaranya tentang kau yang lulusan hukum. Soal itu kita menempuh studi yang sama. Hanya saja aku studi hukum islam. Dan kita sama-sama mengajar di sekolah. Sama-sama tersesat. Kau lulus satu tahun satu tahun setelahku dan kampus yang berbeda pula.

Saat itu, sempat aku mencoba menghubungimu. Sekedar berbasa-basi dan mencoba mengumpulkan peserta gathering sebanyak-banyaknya. Kau bilang sedang pulang kampung ke desamu. Kita berbincang di kolom komentar Facebook-mu. Entah mengapa aku tersenyum saat itu. Merasa cukup senang dengan hanya berbincang cukup lama denganmu. Ya, aku mulai ingin mengenalmu saat itu.

Diani, suka sekali kau datang tiba-tiba. Beberapa kali, statusmu muncul di beranda media sosialku. Seolah mengundangku untuk menanggapinya. Saat itu aku menanggapinya dengan antusias. Tentang kau yang akan merasa risih. Aku tak merasa itu datang darimu. Caramu membalas komentarku sangat hangat, akrab sekali.

Sehari, dua hari hingga beberapa minggu dan kita cukup asyik dengan saling berkomentar. Meskipun lebih tepat kalau disebut kau yang membalas komentarku di statusmu. Biarlah, saat itu aku menikmatinya. Menikmati kamu yang mau mengobrol lebih banyak denganku. Ya, hanya berbasa-basi. Kali ini aku benar-benar ingin mengenalmu.

Gathering berjalan dengan baik. Hampir setengah dari pengajar mengikutinya. Cianjur menjadi tempatku mengenalkan mereka pendidikan di desa. Lingkungan yang benar-benar jauh berbeda dari tempat kita mengajar, Diani. Di sana, kukenalkan mereka dengan lingkungan baru. Kebudayaan dan kebiasaan di desa.

Asing mereka dengan suasana di tempat ini. Seasing aku dengan ponsel tanpa statusmu. Minim sekali jaringan seluler disini. Entah mengapa aku mulai ada yang hilang.

Diani, bahkan di saat kau tak terdeteksi indrawi. Kau kembali datang dengan tiba-tiba. Berselimut kata rindu, disana ada namamu.








Sumber gambar: Tautan

Komentar

  1. The best new slots casino - DrmCD
    We also 안동 출장마사지 recommend the latest slots on our website! Play exciting slots with all the popular games 광명 출장샵 from the best 천안 출장샵 casinos in the  Rating: 5 경상북도 출장안마 · ‎1 부산광역 출장마사지 vote

    BalasHapus

Posting Komentar